Senin, 30 Mei 2022

ARTIKEL PENDIDIKAN KELUARGA

Pola Asuh Demokratis Dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital

      



A.    Latar Belakang

Perkembangan teknologi dan informasi saat ini terutama penggunaan perangkat digital telah mempengaruhi kehidupan anak (Herimanto dan Winarno, 2012). Hal ini mau menegaskan bahwa anak-anak yang hidup di era milenial memang pasti dipengaruhi oleh teknologi digital. Tidak heran jika anak-anak saat ini dikategorisasi sebagai generasi digital. Perkembangan teknologi yang semakin konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak tumbuh seiring dengan teknologi yang berkembang pesat, mulai dari televisi hingga komputer, smartphone, dan perangkat tablet digital dengan berbagai aplikasi. Anak-anak yang hidup di era digital pada saat ini mempunyai karakteristik yakni perilaku ketergantungan terhadap digital (internet) sangat tinggi. Perilaku ini akhirnya berpengaruh langsung terhadap pembentukan karakter anak yang disebut sebagai generasi milenial yang hidup di era digital.

Orang tua dalam keluarga berperan sebagai pendidik pertama dan utama bagi tumbuh kembang seorang anak. Orang tua melakukan peran tersebut dengan pola tindakan atau pola asuh yang positif dan efektif. Keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak ini merupakan suatu keharusan. Berdasarkan karakteristik sikap, perilaku anak-anak dalam era milenial yang ditandai dengan semakin kuatnya penggunaan media digital, maka bagaimana orang tua mengembangkan pola asuh supaya menciptakan generasi yang tidak mendapat pengaruh negatif dari era digital, tetapi menggunakan semua media itu dengan bijak dan untuk kepentingan yang positif. Pola asuh seperti apa yang harus ditetapkan orangtua pada usia dini supaya anak-anak ketika beranjak dewasa memiliki sikap kritis dan selektif terhadap setiap kemajuan. Orang tua bertugas untuk mempersiapkan anak menghadapi zamannya. Orang tua sebagai pendidik pertama dan terutama perlu melakukan retrospeksi dan introspeksi diri dengan terus berupaya mempersiapkan anak untuk menghadapi era digital saat ini dan era kedepannya. Orang tua perlu melakukan proyeksi dengan membangun komitmen atau tekad untuk melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya.

Pengasuhan yang dilakukan orang tua sangat berperan penting bagi tumbuh kembang anak. Pengasuhan merupakan suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak-anaknya sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak-anaknya, sehingga perlakuan orang tua terhadap anaknya memberikan andil yang sangat baik dalam proses pembentukan karakter anak. Keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama kali bagi anak. Setiap orang tua mengharapkan anak anaknya menjadi anak yang berperilaku baik, oleh karena itu dalam membentuk kecerdasan spiritual anak harus diberikan pengasuhan yang baik sejak dini. Hal ini disebabkan karena pendidikan pertama yang diterima oleh anak adalah pendidikan dari orang tua.

Karakter adalah potret diri seseorang yang sesungguhnya. Setiap orang memiliki karakter dan itu bisa menggambarkan diri seseorang yang sebenarnya apakah baik atau buruk. “Karakter merupakan “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ‘mesin’ pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu”. Melalui pembentukan karakter sejak dini, kelak anak diharapkan mampu secara mandiri berperilaku dengan mengetahui ukuran baik dan buruk serta mampu meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Generasi digital ini memiliki ciri-ciri yang dapat ditelaah dari aspek identitas, privasi,  kebebasan  berekspresi  dan  proses  belajar (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016). Identitas generasi ini adalah ramai-ramai membuat akun di Facebook, Twiter, Youtube, dan lain-lain untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka  ada.  Sedangkan  aspek  privasi  generasi  ini  yakni  generasi  digital cenderung  lebih  terbuka, blak-blakan, dan berpikir lebih agresif. Sedangkan aspek kebebasan berekspresi generasi ini adala cenderung ingin memperoleh  kebebasan,  tidak suka diatur dan dikekang, ingin memegang kontrol dan internet menawarkan kebebasan berekspresi. Sedangkan dari proses belajar, generasi ini memiliki ciri yakni selalu mengakses dengan Google, Yahoo atau mesin pencari lainnya. Kemampuan belajar mereka jauh lebih cepat karena segala informasi ada di ujung jari mereka.

Berdasarka karakteristik sikap, perilaku anak-anak dalam era digital yang ditandai dengan semakin kuatnya penggunaan media digital, maka bagaimana orang tua mengembangkan pola asuh supaya menciptakan generasi yang tidak mendapat  pengaruh  negatif  dari  era  digital,  tetapi  menggunakan semua media itu dengan bijak dan untuk kepentingan positif.

Salah satu faktor pembentuk karakter anak adalah orang tua, sedangkan pola asuh yang mendukungnya adalah pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang mementingkan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran dan orang tua bersikap realistis terhadap kemampuan anak, memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatan pada anak bersifat hangat. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan temannya dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru terutama di era digital saat ini (Husada, 2013). Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas pola asuh demokratis dalam pembentukan karakter anak di era digital.

B.     Pola Asuh Demokratis

Pola asuh orangtua memiliki beberapa tipe yaitu Gaya Otoriter/Autokratis, Demokratis, Asuh Permisif, Asuh Laissez Faire, Fathernalistik, Karismatik, Melebur Diri, Pelopor, Manipulasi, Transaksi, Biar Lambat Asal Selamat, Alih Peran, Pamrih, Konsultasi, dan Militeristik. (Widjaja dalam Syaiful 2014:56). Berbagai model dengan tipe pola asuh diatas dapat digunakan oleh orangtua dalam memberikan pengasuhan pada anak-anaknya. Berbagai macam jenis pola asuh diatas akan ada kemungkinan dan bias orangtua melakukan kolaborasi ataupun variasi dalam mendidik anak-anaknya. Pembahasan artikel ini difokuskan pada pola asuh demokratis.

Pola asuh adalah cara, bentuk atau strategi dalam pendidikan keluarga yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya. Pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak, di mana orang tua menentukan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak. Dengan demikian merupakan suatu hak dan kewajiban orangtua sebagai penanggung jawab yang utama dalam mendidik anaknya.

Pola asuh demokratis merupakan suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Dengan kata lain, pola asuh demokratis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan yang telah ditetapkan orang tua. Orang tua juga selalu memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh pengertian terhadap anak Karenanya orangtua selalu mendahulukan kepentingan anak dan tidak banyak menggunakan kontrol terhadap anak. Sehingga pola ini bisa digunakan untuk anak SD,SMP,SMA dan Perguruan Tinggi (PRASOJO ISWIANTO 2017). Pola asuhan demokratif ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginanya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain. Orang tua bersikap sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak. Dengan pola asuhan ini, anak akan mampu mengembangkan kontrol terhadap prilakunya sendiri dengan hal-hal yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini mendorong anak untuk mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan yakin terhadap diri sendiri. Daya kreativitasnya berkembang baik karena orang tua selalu merangsang anaknya untuk mampu berinisiatif. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratik, perkembangannya lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana otoriter, memandang kekuasan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat rahasia. Ini mungkin menimbulkan sikap tunduk secara membuta kepada kekuasaan, atau justru sikap menentang kekuasaan. Tipe demokratis mengharapkan anak untuk berbagi tanggung jawab dan mampu mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimilikinya. (Sumandar 2017)

Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis menurut Syaiful (2014:61) adalah sebagai berikut: 1) Proses pendidikan terhadap anak selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah makhluk mulia di dunia. 2) Orangtua selalu menyelaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan kepentingan anak 3) Orangtua senang menerima pendapat, saran dan kritikan dari anak 4) Mentolerir ketika anak membuat kesalahan dan memberikan pendidikan kepada anak agar jangan melakukan kesalahan lagi tanpa mengurangi daya kreativitas, inisiatif dan prakarsa dari anak 5) Lebih menitik beratkan kerja sama dalam mencapai tujuan 6) Orangtua selalu berusaha untuk menjadikan anak lebih sukses darinya.

C.    Karakter Anak (Pengertian, nilai-nilai dasar, pentingnya pembentukan karakter)

a)      Pengertian Karakter

“Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan seharihari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak”. “Karakter merupakan “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ‘mesin’ pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu”.

“Pengertian karakter secara khusus, karakter adalah nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terwujud dalam perilaku”.

Dari pengertian karakter di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakter adalah nilai-nilai universal atau pola tingkah laku seseorang yang terbentuk melalui proses kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan lalu akan terpatri dalam diri sehingga akan terwujud dalam perilaku

b)     Nilai-nilai dasar karakter

Pembentukan karakter anak melalui orangtua sejak dini sangatlah penting. Keterkaitan komponen lain seperti sekolah dan lingkungan masyarakat dalam pelaksanaannya juga sangat mutlak diperlukan. Memilih orangtua sebagai entripoint dalam persemaian karakter yang dilakukan dengan konsep serta pendekatan yang benar, diharapkan dapat berperan sebagai potensi pendidik dalam mengembangkan karakter sesuai dengan nilai-nilai agama, norma dan etika yang dianutnya

Nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa berasal dari nilai luhur universal, yakni:

1)                Cinta Tuhan dan ciptaannya

2)                Kemandirian dan tanggung jawab

3)                Kejujuran/amanah dan diplomatis

4)                Hormat dan santun

5)                Dermawan, suka menolong, gotong royong, dan kerja sama

6)                Percaya diri dan kerja keras

7)                Kepemimpinan dan keadilan

8)                Baik dan rendah hati

9)                Toleransi, kedamaian dan kesatuan

Maka upaya orangtua untuk membentuk karakter anak dengan segala perilaku yang baik tentunya harus dilakukan sejak usia dini dalam setiap tahap tumbuh kembang anak dalam keluarga, sehingga akan tertanam nilai-nilai karakter yang diharapkan. (Muchtar and Suryani 2019)

c)      Pentingnya pembentukan karakter

Pembentukan karakter sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam berfikir, penghayatan dalam sikap, dan pengalaman dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama dan lingkungannya.

Sangat perlunya sebuah pembentukan karakter di dalam keluarga, orangtua yang harus benar-benar melaksanakan dengan sebaik-baiknya, sehingga karakter anak dapat terbentuk dengan baik. Karakter merupakan sifat alamiah seseorang dalam merespon situasi secara bermoral yang dilakukan dengan tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, tanggung jawab, dan menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya.

D.    Anak di Era Digital

Era digital adalah masa ketika informasi mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan menggunakan teknologi digital. Teknologi digital adalah teknologi yang menggunakan sistem komputerisasi yang terhubung internet.

Karakteristik Anak Generasi Digital

Pada umumnya,setiap populasi generasi yang muncul dalam kurun waktu setiap 15-18 tahun terakhir memiliki karakteristik demografik yang berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya. Karekteristik setiap generasi berbeda-beda karena ditentukan oleh perubahan dan kondisi demografik saat itu. Berbeda dengan generasi X, generasi Net atau Milenial sangat bergantung pada teknologi terutama internet. (Diasokawati and Yaswinda 2019). Menurut Santosa (2015:20-28), generasi Net ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

Pertama, memiliki ambisi besar untuk sukses. Anak zaman sekarang cenderung memiliki karakter yang positif dan optimis dalam menggapai mimpi dalam hidupnya. Anak-anak ini lahir dalam kondisi dunia yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Orang tua dari generasi ini mayoritas lebih mapan, mampu memberikan fasilitas, dan rasa nyaman kepada anak.

Kedua, anak cenderung berpikir praktis dan berperilaku instan (speed). Anak-anak generasi ini menyukai pemecahan masalah yang praktis dan kurang sabar mengikuti proses untuk mencermati suatu masalah.

Ketiga, anak mencintai kebebasan. Generasi Net sangat menyukai kebebasan berpendapat, berkreasi, berekspresi. Anak generasi ini lahir di dunia yang modern. Suatu dunia dengan ciri bahwa rezim tirani otoriter tidak memiliki kekuasaan untuk mengontrol yang lain.

Keempat, percaya diri. Anak-anak yang lahir pada generasi ini mayoritas memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki sikap optimis dalam banyak hal. Zaman ini membutuhkan seorang anak yang bermental positif dan percaya diri. Atas dasar itulah, orang tua perlu membantu anak supaya sikap optimis dan percaya diri terus bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Kelima, anak cenderung menyukai hal yang detail. Generasi ini termasuk generasi yang kritis dalam berpikir. Selain itu, generasi ini sangat detail dalam mencermati suatu permasalahan atau fenomena yang terjadi dalam hidup setiap hari.

Keenam, anak mempunyai keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan. Setiap orang pada dasarnya memiliki keinginan agar diakui atas kerja keras, usaha, kompetensi yang telah didedikasikan untuk pelbagai kepentingan.

Ketujuh, anak mahir menggunakan digital dan teknologi informasi. Generasi Net ini lahir ketika media digital mulai merambah dan berkembang dengan pesat dalam segala dimensi kehidupan manusia. Generasi ini sangat mahir menggunakan segala macam gadget dan aneka media digital lainnya dalam melayani kepentingan dan kebutuhan setiap hari.

E.     Pola Asuh Demokratis Dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital

Berdasarkan karakteritik generasi digital yang dijelas ini, maka orang tua perlu mendidik anak di era digital dengan menggunakan tipe pola asuh yang relevan atau sesuai dengan kehidupan anak. Orang tua dapat menerapkan pola asuh yang efektif jika orang tua mengetahui apa yang harus di buat untuk mendidik anak di era digital. Orang tua diharapkan mampu melindungi anak-anak dari ancaman era digital, tetapi tidak menghalangi potensi manfaat yang bisa ditawarkannya.

Pola asuh orang tua Demokratis. Orang tua tipe ini memberikan aturan main dan disiplin kepada anak, namun memiliki gaya komunikasi yang lebih baik ketimbang authoritarian. Orang tua yang berkarakter seperti ini penuh kasih sayang seperti tipe permisif, dan responsif terhadap kebutuhan anak. Orang tua ini mengutamakan sikap assertive (tegas) dan proaktif. Orang tua tipe ini melatih anak untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama dan juga mandiri. Orang tua authoritative memiliki karakter ideal menjadi teladan atau teladan (role model) bagi anak. Orang tua mendidik anak dengan kasih sayang dan kedisiplinan. Selain itu, orang tua juga memberikan kebebasan yang bertanggung jawab bagi anak. Orang tua memahami karakter anak-anaknya dengan mendalam, dan mengetahui kebutuhan emosional anak. Orang tua yang bertipe authoritative terkadang memperlakukan anak sebagai teman dan juga menggunakan otoritasnya sebagai orang tua. Tipe ini memiliki mentalitas yang baik dan pemikiran yang terbuka terhaap ilmu parenting baru. Mentalitas yang mau belajar berubah jika memiliki kekurangan agar dapat menjadi teladan yang lebih baik lagi untuk anak-anaknya. (Rahmat 2018). Pola asuh orang tua yang authoritative ini identik dengan pola asuh orang tua yang demkoratis dengan ciri-ciri pengasuhannya, yakni (a) ada kerja sama antara orang tua dan anak; (b) anak diakui sebagai pribadi yang dapat bertumbuh dan berkembang; (c) ada bimbingan dan pengarahan dari orang tua; (d) ada kontrol dari orang tua yang tidak kaku. Pola asuh ini mempunyai ciri bahwa orangtua selalu berusaha mendorong anak supaya memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta membuka ruang dan kesempatan bagi anak untuk membicarakan apa yang anak inginkan. Setiap tipe pola asuh orang tua atau parenting yang dijelaskan ini mempunyai dampak tersendiri terhadap perkembangan karakter anak di masa yang akan datang.

Ada beberapa penerapan yang dilakukan orang tua dengan pola asuh demokratis dalam membentuk karakter anak di era digital ini yaitu :

1)                Pertama, orang tua perlu mendampingi anak-anak sebagai generasi digital. Anak terlambat bicara disebabkan karena kurangnya latihan, lebih banyak bermain sendiri, terlalu pasif, terlalu banyak menonton tv. Oleh karena itu, orang tua perlu melakukan pendampingan terhadap anak sebagai generasi digital. Orang tua dapat melakukan hal-hal berikut,yakni : (a) orang tua harus menambah pengetahuan: (b) orang tua mengarahkan anak dengan jelas untuk menggunakan perangkat media digital. Jika anak sudah terpapar perangkat digital, lebih baik untuk mengarahkan dengan komunikasi efektif untuk memutuskan berapa lama dan kapan mereka dapat menggunakannya: (c) imbangi waktu menggunakan media digital dengan interaksi di dunia maya. Orang tua dapat mengimbangi paparan media digital dengan mengenalkan pengalaman dunia nyata seperti aktivitas keseniaan, kegiatan luar ruangan, olahraga, membaca interaktif, musik dan gerakan, permainan tradisional, dan sebagainya kepada anak; (d) pinjamkan anak perangkat digital sesuai dengan keperluan; (e) pilihkan program/aplikasi positif; ; (f) mendampingi dan meningkatkan interaksi; (g) gunakan perangkat digital secara bijaksana. Orang tua perlu bijaksana menggunakan perangkat digital selama berinteraksi dengan anak; (h) aktivitas dunia maya. Komunikasi jarak jauh, membaca berita, melihat gambar dan video merupakan kegiatan dunia maya. Pada saat inilah, orang tua perlu mempersiapkan anak berkunjung ke dunia maya; (i) telusuri aktivitas anak di dunia maya. Orang tua dapat memonitor situs web yang pernah dikunjungi anak,  dan pastikan anak tidak mengunjungi situs yang tidak sesuai dengan usianya.

2)                Kedua, penggunaan media digital desuai usia dan tahap perkembangan anak.

-          Anak balita dengan usia 1-3 tahun. Orang tua mendampingi anak pada usia 1-3 tahun supaya (a) memiliki batasan waktu tayangan pada media digital; (b) memanfaatkan media digital dalam bentuk audio untuk menambah kosa kata, angka dan lagu; (c) memanfaatkan program/ aplikasi untuk meningkatkan perilaku prososial pada anak, misalnya sikap empati atau berbagi.

-          Anak usia 4-6 tahun. Orang tua mendampingi anak-anak yang berusia 4-6 tahun dengan tujuan, yakni: (a) memiliki kesepakatan bersama yang dipahami dan dijalani anak, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran dan memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan kesepakatan; (b) memanfaatkan program/ aplikasi yang mendidik terkait dengan kesiapan sekolah. Misalnya pengenalan huruf, angka, dan pengetahuan dasar; (c) memanfaatkan program/ aplikasi yang mengajarkan perilaku berteman serta menghargai perbedaan dan keanekaragaman yang ada.

-          Anak usia 8-12 tahun. Pada usia ini, orang tua mendamping anak dengan tujuan, yakni : (a) memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran dan memberikan apresiasi atas keberhasilan dalam menjalankan kesepakatan; (b) memanfaatkan program atau video yang menunjukkan berbagai pengalaman positif yang menstimulus imajinasi; (c) mendiskusikan perilaku baik dan tidak dari karakter di media yang mereka kenal.

-          Anak usia remaja 12-18 tahun. Orang tua mendampingi anak-anak supaya (a) memiliki kesepakatan yang dipahami dan dijalani bersama, memonitor pelaksanaannya, konsisten menerapkan konsekuensi atas pelanggaran, dan memberikan apresiasi atas keberhasilan anak dalam menjalankan kesepakatan; (b) memperkenalkan keanekaragaman, ras, etnis dan situasi ekonomi; (c) mengajak anak berpikir kritis atas tayangan informasi dengan cara mengajukan pertanyaan seperti : “menurut kamu apa yang paling menarik dari video ini?”. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016)

Oleh karena itu, Pola asuh yang efektif di era digital adalah pola asuh demokratis. Pola asuh ini tidak mensteril anak dari pengaruh era digital, tetapi berupaya menguatkan anak agar bersikap kritis terhadap pengaruh-pengaruh positif dan negatif era digital. Selain itu, orang tua harus mampu memahami ragam aplikasi yang mendidik dan memandu anak supaya anak menggunakannya untuk tujuan yang baik dan positif. Orang tua harus mengawasi atau menuntun anak dalam menggunakan media informasi tersebut supaya tidak menyimpang dari nilai-nilai pendidikan yang sebenarnya.

Daftar Pustaka :

Diasokawati, Inggrit, and Yaswinda. 2019. “Pola Asuh Orang Tua Di Era Teknologi Digital Di Taman Kanak-Kanak Aisyiyah 29 Padang.” Journal Article V: 9–21.

Elizabeth T. Santosa. (2015). Raising Children in Digital Era. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Herminanto dan Winarno, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 2012

Husada Ana Kurniawati. (2013). Hubungan Pola Asuh Demokratis Dan Kecerdasan Emosi Dengan Perilaku Prososial Pada Remaja. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia vol 2-3

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. “Mendidik Anak Di Era Digital.” Seri Pendidikan Orang Tua (10): 143–61.

Muchtar, Achmad Dahlan, and Aisyah Suryani. 2019. “Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud ( Telaah Pemikiran Atas Kemendikbud ).” Jurnal Pendidikan 3(2): 50–57.

PRASOJO ISWIANTO, ALJIBRA. 2017. “Penerapan Pola Asuh Demokratis Pengasuh Dalam Menumbuhkan Kecerdasan Spiritual Anak Usia Dini, Di Tempat Penitipan Anak Salsabil Taman, Sidoarjo.” J+Plus Unesa 6(1): 1–7.

Rahmat, Stephanus Turibius. 2018. “Pola Asuh Yang Efektif Dalam Mendidik Anak Di Era Digital.” Journal education and culture Missio 10(2): 143. https://repasitory.stikipsantupaulus.ac.id/122/1/Artikel-jurnal-missio.

Sumandar, Tatar. 2017. “Peran Pola Asuh Demokratis Orangtua Terhadap Pengembangan Potensi Diri Dan Kreativitas Siswa.” Jurnal Ilmiah Dikdaya 6(1): 58–74.

Syaiful.B.D. Pola Asuh Orangtua dan Komunikasi dalam Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/mendidik-anak-di-era-digital/

Selasa, 23 November 2021

PRAKTEK PENGGUNAAN WEBSITE PEMBELAJARAN PADA PROGRAM KESETARAAN

 


Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

Pembuatan website pembelajaran ini dapat menggunakan Google Sites, adalah salah satu produk dari google sebagai tools untuk membuat situs. Pembuatan website pembelajaran dengan goggle sites ini cukup mudah, hanya perlu login pada google drive dan memilih komponen goggle sites yang sudah tersedia.

Praktek penggunaan produk TIK berupa website pembelajaran ini, akan dijelaskan melalui sebuah video tutorial penggunaan website pembelajaran pada lembaga PKBM. Penjelasan tersebut berisi tentang bagaimana cara mengakses website dengan link yang sudah diberikan.

Pada website terdapat beberapa komponen yang dapat diakses para peserta didik seperti,

·         Mengunggah (upload) materi pembelajaran. Sehingga peserta didik tidak perlu lagi mengakses materi pada wa grup. Peserta didik tinggal mengunjungi situs website pembelajaran, lalu mengunduh materi yang dikehendakinya.

·         Mengakses absensi, pada website sudah disediakan bagian absensi setiap pertemuannya, para peserta didik hanya perlu mengklik dan mengisi formatnya pada website tersebut.

·         Menonton video pembelajaran, pendidik akan menyediakan video pembelajaran pada setiap materi dan peserta didiknya hanya perlu mengklik pada bagian video pembelajaran dan dapat menontonnya langsung.

·         Memberikan tugas, pemberian juga tersedia di website tersebut.

·         Memberikan pengumuman, memberikan update pada peserta didik misalnya berupa link di internet yang menarik dikunjungi, memberikan informasi buku baru yang layak dibaca oleh para peserta didik untuk menunjang proses pembelajaran.

·         Mengunduh (download) atau melihat tugas, bisa dilakukan pengaturan agar peserta didik bisa mengunggah tugas melalui website. Waktu penggunggahan akan tercatat di website sehingga menjadi kontrol waktu bagi pendidik.

Praktek penggunaan website pembelajaran ini diperlukannya kerjasama antara pendidik dan peserta didik. Para tenaga pendidik, pendidik dan peserta didik diharuskan untuk dapat menguasai penggunaan website dalam pembelajaran dengan baik, terutama bagi mereka yang sama sekali tidak pernah menggunakan TIK. Solusi bagi yang belum menguasai akan diberikan sebuah video tutorial penggunaannya dan dengan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan pengetahuan akan manfaat produk TIK bagi pembelajaran, yang dapat di tularkan sebagai motivasi kepada para pendidik dan peserta didik untuk melek teknologi, dan dengan itu juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dari program kesetaraan yang ada di PKBM tersebut.

Selasa, 16 November 2021

WEBSITE PEMBELAJARAN SEBAGAI PEMANFAATAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

 


Pembelajaran berbasis internet merupakan salah satu manifestasi e-learning yang paling populer, yang menawarkan berbagai keuntungan seperti kesempatan belajar yang lebih fleksibel tanpa terikat ruang dan waktu, mempermudah masyarakat mengakses pendidikan, memperkaya materi pembelajaran, menghidupkan proses pembelajaran, membuat proses pembelajaran lebih terbuka, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta mendukung siswa untuk belajar mandiri.

Penggunaan website pembelajaran ini menjadi alternatif, terutama pembelajaran pada saat pandemi saat ini, yang mengharuskan para peserta didik untuk belajar dirumah via online/daring. Terutama pada PKBM Lokomotif yang ada di Kota Padang, peserta didik program kesetaraan melaksanakan pembelajarannya secara daring.

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, kami mengembangkan website pembelajaran pada PKBM tersebut, pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning.

Pada website pembelajaran tersebut, kami menyediakan beberapa komponen pendukung dalam proses pembelajarannya yang dapat diakses, seperti; absensi, materi, tugas, penilaian, dan video pembelajaran. Untuk mengaksesnya para peserta didik hanya tinggal mengklik link website yang akan dibagikan melalui grup belajar mereka.

Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal. Selain itu, tampilan dan media interaktif website yang lebih menarik perhatian para peserta didik sehingga dapat menumbuhkan  motivasi belajar  mereka ditengah pembelajaran online pada saat ini.

Rabu, 10 November 2021

PAPARAN HASIL PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

 

Gambar (Halama Muka Website Pembelajaran by Kelompok 4)

Hasil rancangan produk dari pemanfaatan TIK yang kami kembangkan yaitu, Website Pembelajaran. Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

Sebelumnya pembuatan website pembelajaran ini menggunakan Google Sites adalah salah satu produk dari google sebagai tools untuk membuat situs. Pengguna dapat memanfaatkan Google Sites karena ia mudah dibuat dan dikelola oleh pengguna awam. Google sites adalah salah satu media webstite yang bisa dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Google sites adalah sebuah website yang digunakan untuk keperluan kelompok ataupun pribadi.

Memanfaatkan Google Sites untuk membuat proses pembelajaran di kelas lebih lengkap dan menarik, antara lain dengan :

· Mengunggah (upload) materi pembelajaran. Sehingga peserta didik tidak perlu lagi mengakses materi pada wa grup. Peserta didik tinggal mengunjungi situs website pembelajaran, lalu mengunduh materi yang dikehendakinya.

·  Mengakses absensi, pada website sudah disediakan bagian absensi setiap pertemuannya, para peserta didik hanya perlu mengklik dan mengisi formatnya pada website tersebut.

·   Menonton video pembelajaran, pendidik akan menyediakan video pembelajaran pada setiap materi dan peserta didiknya hanya perlu mengklik pada bagian video pembelajaran dan dapat menontonnya langsung.

·   Memberikan tugas, pemberian juga tersedia di website tersebut.

·   Memberikan pengumuman, memberikan update pada peserta didik misalnya berupa link di internet yang menarik dikunjungi, memberikan informasi buku baru yang layak dibaca oleh para peserta didik untuk menunjang proses pembelajaran.

· Mengunduh (download) atau melihat tugas, bisa dilakukan pengaturan agar peserta didik bisa mengunggah tugas melalui website. Waktu penggunggahan akan tercatat di website sehingga menjadi kontrol waktu bagi pendidik.

Penggunaaan media website dengan internet sangat cocok untuk dijadikan alternatif pilihan media pembelajaran jarak jauh. Media website dapat juga digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan dampak positif penggunaan internet. Yang tentu saja dalam hal ini membutuhkan peran yang baik dari para tenaga pendidik dalam mengelola pembelajaran daring ini agar dapat digunakan secara terarah dengan baik dan sesuai dengan pada proses pembelajaran.


Jumat, 05 November 2021

PERKEMBANGAN PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

 

Rancangan dari pemanfaatan produk TIK yang berdasarkan hasil observasi yang sudah dilakukan oleh kelompok 4 maka produk yang akan kami kembangkan yaitu, Website Pembelajaran. Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

Penggunaan Website Pembelajaran akan sangat mendukung proses tersebut. Apalagi. saat ini media center yang dilengkapi dengan komputer berbasis jaringan (Internet) telah menyediakan berbagai aplikasi yang dapat digunakan dalam membantu proses belajar dan mengajar. Karena internet telah dikembangkan kedalam format grafik agar tebih mudah digunakan yang dikenal sebagai World Wide Web. Web site dapat digunakan untuk tujuan instruksional (pembelajaran) dimana para pendidik dan pembelajar dapat memperoleh informasi dengan mudah melalui link yang mereka suka.

Sebelumnya pembuatan website pembelajaran ini menggunakan Google Sites adalah salah satu produk dari google sebagai tools untuk membuat situs. Pengguna dapat memanfaatkan Google Sites karena ia mudah dibuat dan dikelola oleh pengguna awam.

Perkembangan perancangan produk TIK kelompok kami pada saat ini, sudah dirancang websitenya menggunakan goggle sites. Dalam website pembelajaran tersebut, terdiri dari : halaman muka website, kehadiran, tugas, materi, penilaian yang mana itu dibagi sesuai dengan paket A, B dan C.

Secara khusus, penggunaan Website pembelajaran (E-Leaming) sebagai media informasi melalui proses belajar online (menggunakan akses jaringan) dapat membuat siswa tidak lagi hanya mengakses sumber informasi dari buku teks, tetapi luga dapat mengakses sumber informasi yang tertetak jauh di luar dinding gedung lembaga. Peserta didik dapat memperoleh informasi berupa dokumen elektronik untuk memperkaya studi mereka. Peserta didik secara aktif dapat berpartisipasi karena belajar online menyediakan interaksi lingkungan belajar interaktif. Peserta didik mampu berkomunikasi langsung dengan teks, gambar, suara, data, dan dua-arah audio/video, dan interaksi yang dihasilkan mengubah peran kedua pendidik dan peserta didik.


Selasa, 26 Oktober 2021

PEMAHAMAN TENTANG PERANCANGAN PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PROGRAM PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

 

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terus meningkat, hal ini dapat mempermudah masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi. Pemanfaatan media pembelajaran berbasi TIK dalam Pendidikan Luar Sekolah, dalam pembelajaran dapat dijadikan sebagai sumber informasi untuk mencari materi pembelajaran, dan sebagai sarana atau alat yang dapat menambah keinginan peserta didik untuk belajar.

Perancangan atau merancang merupakan suatu proses dalam menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, proses suatu perancangan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan, kemudian menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Setelah mengetahui permasalahan pada pemanfaatan produk TIK yang terjadi pada suatu program/lembaga PLS, untuk itu perlunya dirancang suatu produk TIK, yang dapat membantu dalam penyelesaian permasalahan yang terjadi pada program PLS tersebut. Perancangan produk teknologi informasi dan komunikasi pada program pendidikan luar sekolah, misalnya, Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada PKBM Lokomotif, terutama pada masa pandemi ini mengalami kendala. Selama masa pandemi pembelajaran dilakukan secara daring (online), pada PKBM Lokomotif sendiri hanya menggunakan group WhatsApp, dan goggle classroom sebagai media pembelajaran. Pada saat pengambilan absen peserta didik hanya dilakukan secara manual dengan membuat list pada WA group. Selain itu, mengenai bahan ajar menggunakan e-modul, namun pada saat pandemi ini juga menggunakan video pembelajaran dari platform lain, namun para peserta didik kesulitan dan masing canggung dalam penggunaan media pembelajaran secara online ini. Hal ini juga menyebabkan para peserta didik kurang termotivasi dan tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran.

Salah satu bentuk perancangan produk TIK yang akan kembangkan pada PKBM Lokomotif yaitu, Website Pembelajaran. Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

Manfaat yang dari penggunaan website pembelajaran ini yaitu,

-  Mempermudah tutor dan peserta didik dalam pengambilan absen/kehadiran

-  Mengakses absen, materi, tugas dan video pembelajaran dalam satu tempat saja.

-  Mengakses absen, materi, tugas dan video pembelajaran hanya dengan mengklik pada kolom yang sudah tersedia pada website pembelajaran tersebut.

-   Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap peserta didik, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.

Para tenaga PLS, pendidik dan warga belajar haruslah memiliki pemahaman dalam produk TIK yang akan dirancang, terutama bagi mereka yang sama sekali tidak pernah menggunakan TIK. Solusi bagi yang belum menguasai dapat diberikan pelatihan khusus menguasai TIK, atau memberikan video tutorial terhadap penggunaan produk TIK tersebut dan dengan ini diharapkan dapat menumbuhkan motivasi dan pengetahuan akan manfaat TIK bagi pembelajaran, yang dapat di tularkan sebagai motivasi kepada para pendidik dan warga belajar untuk melek teknologi.

Selasa, 19 Oktober 2021

MENGUASAI PERANCANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

 


Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan (akuisisi), pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Berbagai jenis TIK, baik yang konvensional maupun modern, memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jika TIK dirancang dan dikembangkan dengan benar dan dimanfaatkan sesuai tujuan dan karakteristik warga belajar maka penggunaan TIK dalam pembelajaran akan meningkatkan kualitas pembelajaran, baik proses maupun hasilnya.

Bentuk penggunaan  pendidikan dan pembelajaran di pendidikan nonformal akan mencerminkan telah dimanfaatkannya TIK secara sophisticated, yaitu dalam bentuk-bentuk implementasi pembelajaran berbasis komputer (computer based learning) dan implementsi pembelajaran berbasis Web. Dalam pembelajaran berbasis TIK yang mengimplementasikan pembelajaran berbasis computer (computer based lerning-CBL) warga belajar dan pendidik terlibat dalam pembelajaran dengan memanfaatkan program- program software yang tersedia seperti: CD pembelajaran, multimedia pembelajaran, aplikasi tutorial, game-game, dan sejenisnya. Sedangkan dalam pembelajaran berbasis TIK yang mengimplementasikan pembelajaran berbasis Web warga belajar dan pendidik dalam pembelajaran memanfaatkan E-learning, virtual laboratorium, dan Website baik dalam bentuk situs-situs pembelajaran, situs personal, blog, facebook, dan sebagainya. Dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran peserta didik menjadi lebih terlayani kebutuhan belajarnya sehingga  proses belajar akan jauh lebih memudahkan dan menyenangkan/menggairahkan yang pada gilirannya akan berdampak pada diperolehnya hasil hasil belajar yang optimal.

Perancangan produk teknologi informasi dan komunikasi pada program pendidikan luar sekolah, misalnya, Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada PKBM Lokomotif, terutama pada masa pandemi ini mengalami kendala. Selama masa pandemi pembelajaran dilakukan secara daring (online), pada PKBM Lokomotif sendiri hanya menggunakan group WhatsApp, dan goggle classroom sebagai media pembelajaran. Pada saat pengambilan absen peserta didik hanya dilakukan secara manual dengan membuat list pada WA group. Selain itu, mengenai bahan ajar menggunakan e-modul, namun pada saat pandemi ini juga menggunakan video pembelajaran dari platform lain, namun para peserta didik kesulitan dan masing canggung dalam penggunaan media pembelajaran secara online ini. Hal ini juga menyebabkan para peserta didik kurang termotivasi dan tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran.

Salah satu bentuk perancangan produk TIK yang akan kembangkan pada PKBM Lokomotif yaitu, Website Pembelajaran. Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Dengan pembelajaran web ini diharapkan mampu untuk membantu tutor dan peserta didik untuk mencapai pembelajaran yang maksimal.

Manfaat yang dari penggunaan website pembelajaran ini yaitu,

-  Mempermudah tutor dan peserta didik dalam pengambilan absen/kehadiran

-  Mengakses absen, materi, tugas dan video pembelajaran dalam satu tempat saja.

-  Mengakses absen, materi, tugas dan video pembelajaran hanya dengan mengklik pada kolom yang sudah tersedia pada website pembelajaran tersebut.

-   Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap peserta didik, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.

Untuk itu, diperlukannya penguasaan dari rancangan TIK yang nantinya sangat berguna dalam membantu pembelajaran, terutama dalam menjalankan program PLS. Dengan adanya penguasaan TIK sebagai sarana untuk menambah motivasi, pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam memanfaatkan TIK bagi pembelajaran. Para tenaga PLS, pendidik dan warga belajar diharuskan untuk dapat menguasai TIK dalam pembelajaran dengan baik, terutama bagi mereka yang sama sekali tidak pernah menggunakan TIK. Solusi bagi yang belum menguasai dapat diberikan pelatihan khusus menguasai TIK, atau memberikan video tutorial terhadap penggunaan produk TIK tersebut dan dengan ini diharapkan dapat menumbuhkan motivasi dan pengetahuan akan manfaat TIK bagi pembelajaran, yang dapat di tularkan sebagai motivasi kepada para pendidik dan warga belajar untuk melek teknologi.

ARTIKEL PENDIDIKAN KELUARGA

Pola Asuh Demokratis Dalam Membentuk Karakter Anak di Era Digital        A.     Latar Belakang Perkembangan teknologi dan informasi saat ini...